Lompat ke isi utama

Berita

Menghidupkan Tradisi di Masa Jeda: Ikhtiar Spiritual Bawaslu Batola Merawat Nurani Demokrasi

Dokumentasi kegiatan

MARABAHAN — Di tengah keheningan jeda kontestasi dan siklus non-tahapan pemilihan umum, denyut di lingkungan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Barito Kuala (Batola) tidak lantas surut dalam rutinitas birokratis belaka. Saat hiruk-pikuk pengawasan politik mereda, jajaran pengawas pemilu di Bumi Selidah justru memilih merawat ritme batin melalui agenda rutin pembacaan Surat Yasin dan tahlil bersama, yang dibungkus dalam program Jumat Pagi Beramal dan Beriman atau yang akrab disapa Jumpa Berlian.

Pelaksanaan kegiatan keagamaan yang secara konsisten digelar pada masa non-tahapan pemilu ini bukan sekadar mengisi kekosongan agenda institusional. Di Kalimantan Selatan, pelantunan ayat suci dan zikir tahlil mencerminkan tarikan akar kultural yang sangat kuat dengan tradisi keislaman Nusantara—khususnya amaliah Ahlussunnah wal Jamaah yang dihidupkan secara turun-temurun oleh Nahdlatul Ulama (NU). Tradisi ini telah lama berakar sebagai ruang silaturahmi sosial sekaligus ikhtiar batin untuk merawat kedamaian, memperkuat ikatan kekeluargaan, serta memohon keberkahan bagi daerah.

Bagi Bawaslu Batola, menghidupkan tradisi kaum Nahdliyin di ruang kerja institusi pengawas merupakan bentuk penyelarasan antara profesionalitas modern dan kearifan lokal yang religius. Masa non-tahapan pemilu dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat fondasi moral aparatur, mendinginkan suasana, serta merawat solidaritas internal. Nilai-nilai Islam moderat, tawadu, dan kebersamaan yang diajarkan oleh tradisi NU diterjemahkan ke dalam etos kerja sehari-hari yang humanis.

Menariknya, pengelolaan ritual mingguan ini dijalankan secara partisipatif. Giliran memandu pembacaan Yasin dan tahlil dirotasi secara bergantian oleh jajaran staf di lingkungan sekretariat Bawaslu Batola. Mekanisme ini secara tidak langsung menumbuhkan semangat egalitarianisme, tanggung jawab kolektif, dan rasa memiliki yang tinggi di antara sesama pegawai, tanpa sekat struktural yang kaku.

Perpaduan antara kerja-kerja kelembagaan di luar musim kampanye dan kedalaman spiritual melalui tradisi keagamaan ini menegaskan wajah institusi pengawas yang utuh. Bawaslu Batola memandang bahwa integritas seorang pengawas tidak hanya diuji saat tahapan pemilu memuncak, tetapi juga dirawat melalui ketahanan nurani di masa-masa tenang, memastikan setiap langkah pengabdian senantiasa berlandaskan moralitas yang luhur dan menyejukkan.

Penulis : Muhammad Akbari