Hari Lahir Pancasila 2026: Bawaslu Batola Ingatkan Bahaya Polarisasi dan Hoaks di Ruang Digital
|
MARABAHAN — Di tengah derasnya arus informasi dan pertarungan opini di media sosial, Bawaslu Kabupaten Barito Kuala mengingatkan bahwa ancaman terhadap persatuan bangsa hari ini tidak lagi datang dalam bentuk konflik fisik, melainkan melalui polarisasi, hoaks, dan ujaran kebencian yang menyebar tanpa batas.
Pesan itu mengemuka saat Bawaslu Barito Kuala menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di halaman kantornya, Senin, 1 Juni 2026. Mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, peringatan tersebut menjadi momentum refleksi atas tantangan kebangsaan yang kian kompleks di era digital.
Ketua Bawaslu Barito Kuala, Saifi, mengatakan Pancasila tidak boleh dipahami sekadar sebagai dokumen historis atau simbol negara. Di tengah meningkatnya penyebaran informasi yang memecah belah masyarakat, nilai-nilai Pancasila justru semakin relevan untuk menjaga persatuan.
“Perpecahan hari ini sering kali berawal dari informasi yang tidak benar, prasangka, dan sikap saling menyerang di ruang publik. Karena itu, Pancasila harus hadir sebagai pedoman dalam bersikap dan berinteraksi, termasuk di media sosial,” kata Saifi.
Menurut dia, keberagaman yang dimiliki Indonesia merupakan modal sosial yang tidak dimiliki banyak negara. Namun tanpa kesadaran untuk saling menghormati, keberagaman itu dapat berubah menjadi sumber konflik.
Syaifi menilai masyarakat perlu semakin kritis dalam menerima informasi, terutama menjelang berbagai agenda politik dan demokrasi yang berpotensi memunculkan perbedaan pandangan. Ia menegaskan bahwa perbedaan pilihan tidak boleh mengorbankan persaudaraan.
“Pancasila mengajarkan kita bahwa persatuan berada di atas kepentingan kelompok. Perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam demokrasi, tetapi jangan sampai berubah menjadi permusuhan,” ujarnya.
Bagi Bawaslu, nilai-nilai Pancasila juga menjadi fondasi dalam menjalankan fungsi pengawasan demokrasi. Integritas, keadilan, dan kepentingan bangsa harus menjadi landasan dalam setiap proses pengawasan pemilu maupun pemilihan.
Di tengah meningkatnya penggunaan media digital sebagai ruang pertukaran informasi politik, Bawaslu Barito Kuala mengajak masyarakat untuk menjadi bagian dari pengawasan partisipatif dengan melawan penyebaran hoaks, menjaga etika bermedia sosial, dan mengedepankan dialog yang sehat.
Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun ini menjadi pengingat bahwa tantangan menjaga persatuan bangsa tidak lagi hanya berada di ruang-ruang formal pemerintahan. Tantangan itu kini hadir di layar telepon genggam setiap warga negara.
Di situlah Pancasila diuji: bukan ketika diucapkan dalam upacara, melainkan ketika diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bawaslu Barito Kuala menilai, selama nilai persatuan, toleransi, dan keadilan terus dijaga oleh masyarakat, Indonesia akan tetap mampu menjadi contoh bahwa keberagaman bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan untuk membangun perdamaian.
Penulis : Zainal
Editor : Muhammad Akbar